Amukan Yang Mulia Dosen dan Ambisi Sebenarnya pada KKN
Jadi ceritanya
begini, terhitung mulai hari ini saya memulai KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ya, kami
selama 45 hari kedepan akan hidup didesa yang notabene daerah tertinggal.
Lokasinya sekitar 1 jam dari pusat kota jember, deket-deket pantai sih.
Ciri-ciri untuk menandai sudah masuk atau belumnya ke desa kami itu simpel.
Kalu jalannya udah rusak ga karu-karuan, berarti itu udah masuk desa kami.
Kalau belum rusak ya berarti belum masuk desa kami, hahahaha. Nantinya kami
akan menjadi sekelompok mahasiswa yang sok-sok.an yang seolah-olah begitu
peduli masyarakat. Dipaksa sih sebenarnya, ganjarannya 3 SKS lho. Lumayan buat
naikin IP, syukur-syukur kalo dapet jodoh. Mahasiswanya bisa dipaksa buat
peduli namun elit politiknya cuma bisa retorika dilayar Tv yang acara utamanya cuma
Mars Perindo. Waduh. Pada hari
pertama KKN kami mendapat kesan yang begitu tegas dan terpampang nyata,
istilahnya Its starts with a boom.
Dalam bahasa jawanya “jek tas mulai wes mbledos”.
Hari pertama KKN
diawali dengan pelepasan oleh staff Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertingal
Dan Transmigrasi. Lalu acara lanjutannya adalah penyerahan di kecamatan
masing-masing. Nah disinilah kesan boom
(baca : amukan) pada KKN ini bermula. Saya sekelompok berinisiatif membawa
gitar. Karena terkendala waktu dan harus langsung ke kantor kecamatan, saya
tidak meletakkan gitar itu di desa, melainkan langsung saya bawa ke kantor. Nah
selesai tiba di kantor gitar yang saya bawa ini langsung jadi rebutan untuk
mainan temen-temen. Kemudian ada suara horor berkata,” mas, sampeyan iki arep
rapat kok malah gowo gitar, singgahno kono timbang mengko tak guwak“. Suara
horor tadi adalah umpatan dari dosen pembimbing di kecamatan kami. Alih-alih
disinggahno (disembunyikan) gitar tersebut malah diangkut paksa ke dalam mobil
yang mulia baginda dosen dan disita ke rumahnya.
Modiar koe le....
Jujur saya pengen
berkata kepada yang mulia dosen tadi, “pak, itu gitar hasil patungan 2 anak
kosan tak berdosa lo, nyisahin duit bulanan dengan mengurangi porsi makan....
kok tega banget moro-moro langsung disita”. Faaaaaak. Lha terus apa hiburan
kami di desa ini coba. Itu Cuma gitar lo... gitar, bukan narkoba atau bom panci
pak. Bukan. Ga berbahaya, kalau di genjreng palingan juga bunyinya jreeeeng, engga duarr-kok pak. Bahannya juga Cuma kayu sama senar kok pak, ga ada
unsur babi atau anjingnya lho. Ga bakal bikin bodoh orang seindonesia kayak
sinetron-sinetron alay di TV lho. Serius, demi Poseidon. Salah tah kami kalau
butuh hiburan, toh kalaupun gitar dianggap membawa dampak buruk terhadap
program, itu kan tidak terbukti (belum setidaknya). Lha wong KKN aja baru mau
mulai, diterima aja barusan. Kecuali semisal memang ada temuan kalau main gitar
waktu KKN membuat program menjadi kacau gitu. Ini baru mulai kampret.
Itu tadi amukan
dari dosen, belum juga amukan dari pak sekertaris camatnya (pak sekcam).
Niatnya sih baik, menegur acara penyerahan mahasiswa KKN yang molor dari
jadwal. Harusnya acara mulai jam 9 (diundangan sekcamnya gitu), namun yang
terjadi adalah acara baru mulai jam 11. Intinya si sekcam ini memprotes
kemoloran acara kepada mahasiswa, katanya buat mendisiplinkan. Oke tanggapan
saya begini, kalau telat sudah fixed ga bener. Saya sependapat dengan pak
sekcam.tapi ya jangan moro-moro mengancam ga diluluskan hanya gara-gara acaranya
molor dan ada yang telat. Kan harus ditelaah dulu lah alasan-alasan kenapa acaranya
molor dan ada yang telat.
Pertama kenapa
acara molor dari jadwal jam 9. Sebelum ada penyerahan di kecamatan kan ada
upacara pelepasan di Universitas Jember (UNEJ), nah acara ini baru selesai jam
8 lebih beserta makan-makannya. Jarak tempuh dari UNEJ ke kantor kecamatan
puger ini 1 jam. Dari sini saja (hitung-hitungan) udah ga mungkin tepat waktu.
Dan pak sekcam protes acara molor ? helllow.... kata sprite mari berpikir
jernih. Pak sekcam itu berkantor di kantor kecamatan, acara penyerahan
mahasiswa juga di kantor kecamatan. Tahu maksud saya ? pak sekcam ini sekalipun
acaranya misal molor 5 jam dia kan ga rugi apa-apa. Lha wong dia ga nunggu kok,
kan lokasi acara dengan kantornya sama. Gitu
dia protesnya masya allah. Toleran dikit lah, bolehlah buat mengedukasi kalau
acara molor itu ga baik tapi ga langsung ngancam dicoret juga kan.
Kedua soal temen
saya yang telat sewaktu acara penyerahan mahasiswa KKN di kantor kecamatan.
Jadi pak sekcam, juga yang mulia dosen saya marah besar kepada teman saya yang
telat sewaktu acara penyerahan kemaren. Kalau pak sekcam sih memang berniat
mengedukasi sebenarnya tapi kalau yang mulia dosen saya itu marah lebih karena
malu kepada pak sekcam, hahaha. Saya tentu sekali lagi sependapat kalau telat
itu salah. Namun yang harus pemirsa-pemirsa sekalian ketahui adalah alasan dari
keterlambatan itu, bukan melulu soal judgemnet telatnya. Teman saya ini lho telat karena masih
mengantar barang-barang kelompoknya. Yang mulia bapak-bapak terhormat diatas
benar saat memarahi temen saya yang telat, namun abai terhadap logika alasan
keterlambatannya. Ehem, begini, anak muda milenial ini kan sedikit (baca : luar
biasa) ribetnya. Bayangkan seberapa banyak
kebutuhan anak-anak KKN selama 45 hari dan dengan anggota 10 orang. Ya
buanyak. Lha wong saya nganter pake 2 mobil aja masih kurang. Ada lebih dari 6
koper besar yang diangkut, belum lagi tetek-mbengek keperluan lainnya. Bawa
baju, kipas, gitar, kabel, laptop, printer, kasur, bantal, guling, rice cooker,
kulkas, lemari, meja rias, kamar mandi dalem, bom panci, ah sudahlah. Apa
aja dibawa, kalau boleh bapak/ibu kosan juga dibawa. Jadi inti yang mau saya
katakan adalah bukan cuma cinta yang
butuh waktu, tapi ngangkut barang pun juga
butuh waktu. Dan kondisi seperti ini oleh bapak-bapak terhormat di atas
belum dipahami.
Yah, akhirnya
hari pertama penuh dengan boom (baca
: amukan). Saya sih santai aja, pengabdian kepada masyarakat masak toh langsung
luntur Cuma gara-gara dosen yang ngamuk (sok-sok.an pake kata pengabdian,
aslinya mah KKN kan cuma ehem...). Ya engga toh. Lha wong temen KKN saya
cantik-cantik, hahahaha.[]

Leave a Comment