Rembulan Di Wajahmu



Adzan sudah berkumandang, matahaari pun sudah lelah bersinar hari ini. Dia mulai meredup jauh di sebelah barat. Saat ku ingat wajahmu, sebenarnya telah sangat ku kenal. Bahkan kita selalu bertemu di pagi menjelang jam 7 di masa lalu. Terakhir aku berfoto denganmu mungkin adalah saat kita mengenakan seragam itu. Kita pernah se-almamater kan. Warna merah dan putih, yang sekarang ini sudah tak mungkin muat di badan kita. Sungguh aneh betapa Tuhan menjalankan dunia ini. Waktu seolah merubah segala bentuk penampilanmu juga penampilanku. Cara berfikirmu dan cara berfkirku. Hampir 8 tahun kita tak saling bertegur sapa. Ku rasa dunia ini memang begitu sempit.  Aku bahkan lupa siapa nama lengkapmu, tapi tentu aku masih ingat hobi dan betapa aneh suaramu saat kamu berbicara. Aku baru benar-benar mengingatmu sekarang. Sungguh benar aku merasa sesak di dada, bahwa aku juga rindu walau hanya untuk bercengkrama saja.
Aku menjadi ingat bahwa suaramu aneh. Terdengar merdu sesekali saat kamu sedang bernyanyi. Kita memang tidak bertatap muka, tapi aku bersyukur menjadi sering mendengar suaramu. Bahkan dengan teksmu saja aku sudah luar biasa senang. Sedikit kata “hai” sudah cukup untuk membuatku tersenyum beberapa jam. Mungkin kamu harus mempertimbangkan untuk menyapaku “hai” beberapa jam sekali. Kurasa itu cukup untuk membuatku tersenyum seharian. Pekerjaan kita membuat kita sama-sama lelah, sekalipun secara faktual kita tidak bekerja. Status pendidikan mungkin lebih tepatnya. Sekarang ini aku tidak tersenyum. Kamu tidak menyapaku “hai” hari ini. Tahukah kamu aku juga rindu sapaanmu itu. Terkadang aku ingin menyanyikanmu sebuah lagu, namun aku tidak bisa bersenandung. Aku takut merusak pendengaranmu dengan suara sumbangku. Mungkin aku akan menyanyikanmu didepan penciptaku. Mengalunkan kata-perkata merayunya untuk menuliskanmu untukku. Aku akan mengambil air wudhuku dulu.
Sungguh aku ingin melihat senyum itu, tidak menggunakan handphone di depan mataku. Aku ingin melihat senyum itu, tepat dengan mataku sendiri. Tahukah kamu aku sekarang sepertimu, aku menjadi senang menggambar. Seringkali aku menggoreskan tinta untuk menggambar. Namun aku belum berkesempatan menggoreskan tintaku untukmu. Aku selalu membayangkan aku akan kesulitan menggambar wajahmu. Senyummu, senyummu itu akan sangat sulit digambar. Terkadang aku merasa bahwa aku bisa menggambar dengan baik, namun aku meragu mampu menggambar senyum itu. Kenapa Tuhan memberikan senyum seperti itu kepadamu. Aku jadi kesulitan menggambar wajahmu. Tanganku pernah menggambar wajah dekan dengan baik, apakah aku mampu menggambar senyummu dengan baik pula ?. Karena kurasa senyummu tidak akan mampu digambarkan. Bahkan oleh dante ataupun da vinci sekalipun. Senyummu bergitu orisinil.
Tuhan selalu saja misterius. Kitabnya pun sangat misterius. Bagi Tuhan, jodoh umatnya hanya Dia yang boleh tahu. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit hati karena ke-rahasiaan itu. Beberapa diantaranya bahkan merasa Tuhan jahat karena membiarkannya jatuh cinta pada orang yang salah. Apakah Tuhan itu jahat ? tidak, tidak. Tuahn itu maha baik. Dia membiarkanku untuk mendalami ilmu di sini. Dia membiarkanku sekolah tanpa biaya. Dia baik. Tentu saja Dia baik, Dia juga memperkenankan kita untuk bersua kembali. Bahkan Tuhan membiarkan orang yang menghujatnya untuk tetap hidup di dunia ini. Apa namanya kalau bukan baik bila seperti itu. Yang dilakukannya saat membiarkanmu berjuang untuk orang yang salah adalah berkah darinya. Dia memahfumkanmu dengan cara seperti itu. Mungkin Tuhan juga berpendapat bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Karena Tuhan itu baik, maka aku akan merayu-Nya dengan cara terbaik yang aku bisa. Kamu juga harus merayu-Nya. Percayalah bahwa sekalipun aku idealis karena persma, aku masih percaya Tuhan itu ada. Dan sesibuk apapun, aku akan selalu merayu-Nya. Karena  senandungku kan terus kulantunkan kepada-Nya dengan menyebutmu sebagai lirik didalamnya. Karena  sungguh aku merasa kamu perlu untuk kurayukan kepada Tuhanku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.