Kuliah Retorika
Kuliah atau organisasi
Tulisan
ini merupakan sebuah opini dan pandangan saya sebagai mahasiswa mengenai sitim
pendidikan di fakultas saya dihubungkan dengan kegiatan keorganisasian. Mohon
maaf sebelumnya apabila dalam tulisan ini menggunakan bahasa yang terkesan
kasar, namun itulah yang benar-benar saya rasakan. Saya merupakan mahasiswa
aktif angkatan 2014 yang sedang berkuliah di Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember (FTP UJ). Pertama kali saya masuk di dunia perkuliahan,
banyak sekali saya mendengar dari dosen-dosen kala itu bahwa kuliah itu tidak
terbatas pada apa yang kami pelajari di kelas. Pernyataan itu saya terima
sewaktu saya mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2). Dan saya mengamini
hal tersebut, bahwa apabila saya hanya kuliah tanpa menimba ilmu di organisasi
adalah suatu kerugian bagi saya. Sehingga saya memutuskan untuk ikut di
organisasi pers mahasiswa di fakultas saya. Kuliah dan organisasi nampaknya
menjadi suatu hal yang sulit dilakukan di fakultas ini. Banyak dari teman saya
yang akhirnya memilih kuliah saja tanpa menoleh di di organisasi, dan
sebaliknya. Akhirnya pun saya ikut organisasi hanya sebagai suatu formalitas
saja.
Di
FTP agaknya sulit untuk menjadi mahasiswa yang menjalani kuliah dan organisasi.
Karena sistim pendidikan yang dibuatkan oleh pihak birokrat luar biasa ketat
hanya untuk menjalani perkuliahan. Hasilnya adalah mahasiswa hanya mengenal
ilmu di dalam kelas, ilmu perkuliahan. Pendapat awal saat PK2 yang disampaikan
oleh dosen-dosen nampaknya hanyalah sebuah bualan belaka. Mengingat kenyataan
yang dilaksanakan di kampus ini hanyalah berorientasi pada formalitas kuliah
dengan kurikulum, jam belajar, dan tugas-tugasnya. Itu adalah orientasi pada
fakultas ini, tanpa memandang capaian ilmu yang didapat oleh mahasiswanya. Saya
pada waktu itu menjadi salah satu mahasiswa yang terbawa kebijakan birokrat
kampus ini. Saya menjadi mahasiswa yang rajin bukan kepalang, tiap hari saya
hanya tidur 4-5 jam demi untuk mempercantik tugas yang akan saya sampaikan kepada
dosen saya di esok harinya. Saya
menganggap hal seperti ini adalah benar, bahwa kewajiban mahasiswa saat kuliah
adalah tugas yang diberikan oleh dosen. Saya menjadi mahasiswa robot seperti
ini selama 4 semester. Saya benar-benar menuhankan
tugas dan dosen saya.
Kejadian di Bogor
Sedikit
bercerita, beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa teman saya berangkat ke Bogor
untuk mengikuti sebuah perlombaan karya ilmiah. Karya ilmiah ini didapat dari
hasil mata kuliah yang ada pada semester 5 yaitu Rekayasa Mesin Dan Peralatan
Pertanian (RMPP). Lomba yang ada di Bogor, IPB tepatnya adalah lomba desain
mesin. Kami ber-empat dengan berbangga hati berangkat dengan membawa desain dan
paper kami. Setibanya di IPB kami
langsung bertemu dengan peserta lain dari Palembang, Bogor, dan Jogja. Sedikit
bercerita, waktu itu perwakian dari palembang membuat 2 desain alat yaitu
baterai dari ekstrak Pohon Sendudu dan mikrokontroler irigasi menggunakan
sensor kadar air tanah. Perwakilan dari jogja membuat alat kontrol irigasi
tetes dengan sensor lengas tanah. Perwakilan dari Bogor membuat robot panen
tomat dan penangkap serangga menggunakan lampu.
Secara
pribadi dan hal itu tidak saya sampaikan kepada teman satu tim saya adalah
bahwa saat itu saya benar-benar merasa malu. Hal tersebut dikarenakan kami
hanya membawa model tanpa membawa sesuatu yang pantas untuk dilombakan. Bahkan
paper hasil matakuliah RMPP ini tidak mengajarkan kami untuk mewujudkan
model atau desain ini menjadi sesuatu
yang nyata yaitu menjadi alat. Kami bahkan tidak melakukan uji kinerja alat
ini. Di matakuliah RMPP-pun kami diajari hanya sebatas mendesain tanpa
mewujudkannya. Pantaslah kalau kami pulang dengan kekalahan pada perlombaan
ini. Sepulang dari Bogor inilah pandangan saya mengenai perkuliahan dan sistim
pendidikan di FTP berubah sepenuhnya.
Kuliah di FTP hanya retorika
Setelah
pengalaman di Bogor tersebut saya benar-benar merasa sesuatu yang salah di FTP.
Kuliah yang saya anggap tuhan
hanyalah sebuah retorika semata. Mari sedikit berfikir dan menelaah beberapa
matakuliah di FTP khususnya di Jurusan Teknik Pertanian (TEP). Ambil saja
contoh matakuliah Alat Dan Mesin Pertanian (Alsintan). Saat mengikuti
matakuliah tersebut kami tidak diajarkan membongkar mesin atau setidaknya
memperbaiki atau menganalisa mesin-mesin pertanian itu. Hal yang dilakukan
hanyalah sebatas menyalakan mesin, dan perkenalan mengenai bagian-bagian dari
mesin itu. Ada praktikum yang didalamnya kami hanya diajak ‘naik’ traktor.
Sekali lagi saya katakan hanya ‘naik’ dan bukan mengoperasikan traktor itu.
Saya masih ingat betul dengan yang dikatakan oleh dosen pengampu matakuliah Alsintan
kala itu yaitu Bapak Siswoyo. Beliau mengatakan kalau seandainya saya dapat
nilai A, berarti suatu saat di masa depan saya harus mempertanggungjawabkan
nilai A itu. Hal itu beliau sampaikan saat ujian matakuliah Alsintan di Gedung
D Ruang 2. Logika ini nampaknya terbalik, karena kami dinilai bukan dari
kemampuan kami dan seolah nilai itu hanyalah sebuah huruf dan bukan menandakan
kemampuan. Nilai A yang didapat hanya sekedar undian berhadiah yang pajaknya
harus ditanggung dikemudian hari.
Pada
matakuliah lain sebut saja Ilmu Pertanian Umum (IPU) yang diampu oleh Bapak
Muharjo nampaknya hanya mengkoreksi kepenulisan. IPU yang harusnya menjadi dasar pada
perkuliahan di Jurusan TEP nampaknya bergeser menjadi matakuliah yang
mengajarkan cara menulis yang benar, tanpa mengkoreksi konten atau isi dari
tugas-tugasnya. Lalu saat birokrat kampus menyatakan kuliah di FTP menggunakan Kurikulim
Berbasis Kompetensi (KBK) saya jujur tidak merasa apa yang diajarkan merupakan
suatu kompetensi. Dimana letak kompetensinya jikalau matakuliah mesin hanya
sebatas teori dan pengenalan serta mata kuliah Ilmu Pertanian Umum hanyalah
soal kepenulisan. Dimana letak kompetensinya ?
Saya
menjadi menyesal setelah apa yang saya alami pada semester 1-4 yang saat itu
saya menuhankan tugas dan kuliah.
Saya akhirnya merasa dengan sungguh-sungguh bahwa saat saya kuliah itu hanyalah
sebuah retorika, hanya sebuah teori semata. Saya merasa saya hanya mengejar
sebuah pepesan kosong. Berlari begitu keras seolah saya berlari kearah yang
benar namun pada suatu titik saya tidak menemukan apa yang saya cari, dan yang saya temukan hanyalah kehampaan. Saya
tidak menemukan ilmunya.
Organisasi
Saya
berpindah haluan menjadi mahasiswa yang aktif organisasi daripada aktif kuliah.
Karena saya sadar saat saya mati-matian mengejar kuliah, yang saya dapatkan
hanya sebuah teori dan retorika. Saya
menjadi merasa bersalah karena ikut organisasi hanya ‘angin-anginan’ karena
mengejar kuliah yang baru saya sadari hanya pepesan kosong. Terkadang saya
merasa kasihan kepada teman-teman saya yang hanya tahu kuliah dan kuliah saja.
Seperti yang saya katakan tadi, itu hanyalah mengejar pepesan kosong. Perbedaan
itu begitu kentara sampai-sampai teman saya Ratna berkata bahwa sekarang saya menjadi malas
kuliah. Saya menyanggah pernyataan ratna
dengan mengatakan sekalipun saya tidak serajin dulu dan lebih aktif di
organisasi, saya tetap mengerjakan tugas-tugas saya sewaktu kuliah yang bahkan
lebih bagus dan lebih benar daripada
mereka yang hanya tahu kuliah saja. Di organisasi saya benar-benar mendapat
ilmu untuk menulis berita, opini, essay, dan bahkan saya mengelola website
persmanifest.com. Saya mendapatkan
sesuatu yang nyata dan bukan hanya teori layaknya yang saya dapat di
perkuliahan. Selama 1 semester ini banyak bertemu dengan orang ‘keren’ dari
berbagai kota dan golongan.
Joko
Cahyono mantan Sekertaris Jendral (sekjen) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia
Kota Jember (PPMI Jember) pernah berkata orang yang mengambil kuliah dan
organisasi adalah orang yang mengikuti arus dan tidak punya pendirian.
Menurutnya sebagai mahasiswa harus menentukan mana yang lebih menjadi
prioritas, apakah itu adalah kuliah, atau itu organisasi. Karena menurutnya
dengan begitu hasil yang didapat akan maksimal. Tentu saya tidak sependapat
dengan itu. Saya mengatakan bahwa yang benar-benar melawan arus adalah orang
yang mampu menjalani kuliah dan organisasi dengan sebaik-baiknya. Tidak angin-anginan
waktu di organisasi dan tidak tiba-tiba hilang sewaktu perkuliahan. Menurut
pandangan saya hal inilah yang paling melawan arus dan yang akan paling banyak
mendapat ilmu. Ibarat sebuah botol apabila dicelupkan sejalan dengan arus maka
botol akan lama penuhnya. Berbeda dengan saat dia melawan arus, maka dengan
mudah botol tersebut akan terisi penuh dengan air.[]

Leave a Comment