Baju Baru dan Permintaan Maaf
Rumah Yu In yang damai. Selamat malam kawan budiman, ditempat saya duduk sekarang cuaca agak mendung. Bagaimana cuaca ditempat para pembaca budiman saat ini ?. hari ini adalah hari-hari akhir bulan puasa yang artinya sebentar lagi adalah Hari Raya Idul Fitri. Kalau bicara normalitas, maka menjelang lebaran akan ada beberapa kebiasaan yang dilakukan kebanyakan orang normal. Kebiasaan itu bisa jadi berupa :
- beli baju baru;
- jor-joran minta maaf.
Mari kita bahas kebiasaan-kebiasaan di atas satu persatu.
Baju Baru
Alhamdulillah.
Koreksi
saya bila salah, bukan berarti saya pandai agama dan sok-sok.an kasih nasehat
sebenarnya, tapi setahu saya dalilnya kan “pakailah baju terbaikmu saat sholat
ied”, atau kurang lebih seperti itu lah. Tapi larinya malah “baju terbaik” diartikan
“baju baru”. Ah baju baru, tapi sifat buruknya ga berubah. Luarnya saja yang
baru, tapi dalamnya tetap sama seperti sebelum bulan puasa. Sifat-sifat buruk
yang seharusnya didegradasi sewaktu bulan puasa tidak berkurang atau ternyata
hanya dikekang sementara waktu. Astaghfirulloh. Saya menganggap budaya membeli
baju baru lebaran ini lebih kepada gengsi ketimbang kebutuhan. Karena saya
menemui banyak tetangga saya ngomong begini, “ aku wes nyawit klambi entek 700
ewu” (saya sudah belanja baju habis 700 ribu) . Tetangga lain ga mau kalah,
“sikembar wes blonjo neng toko ngarepan entek 1 juta pisan ambi bapake, aku
malah urung tuku” (sikembar udah belanja di toko depan situ, habis 1 juta sama
sekalian ayahnya, saya malah belum beli). Demi posseidon penguasa samudera.
Bolehlah kalau memang mau bercerita sudah belanja baju lebaran, tapi kenapa
juga nominalnya disebutkan. Kan tidak ada faedahnya juga, sudah sia-sia
beberapa kata.
Gara-gara kebiasaan baju baru
menjelang lebaran ini masjid-masjid menjadi sepi di hari-hari terakhir puasa.
Haduh, dasar masyarakat yang gengisan memang. Kalau dipikir lebih jauh lagi kan
sebenarnya beli baju bisa dibulan apa aja. Bisa saja di bulan muharam
(suro-agar lebih mistis), atau bulan dzulhijah (baju bernuansa kambing) misal.
Kenapa harus dibulan puasa akhir menjelang lebaran. Sedangkan bulan puasa tidak
terjadi sepanjang tahun (kasian kalo puasa sepanjang tahun orang-orang mesum
jadi bingung mau mesum kapan). Yang akhirnya membuat jamaah sholat tarawih dan
masjid-masjid menjadi sepi peminat, kalah saing sama departement store. Kalau
mau dipikir secara rasional, nilai dari baju terbaik itu 1 sunnah. Sedangkan
sunnah-sunnah lain sewaktu sholat ied atau lebaran masih banyak dan tidak perlu
keluar biaya. Sebut saja sarapan dulu sebelum sholat ied, pakai wangi-wangian
(bunga kamboja misal), sholat di tempat terbuka. Nah kalau secara
hitung-hitungan logis lebih mudah mendapat 3 sunnah daripada mengandalkan
gengsi untuk 1 sunnah. Itu pun karena salah konsepsi makna baju terbaik.
Sebentar
lagi kan lebaran, aku minta maaf ya.
Saya masih ingat betul dengan
kebiasaanmeminta maaf menjelang lebaran dari tahun ke tahun. Sewaktu saya SMP
kegiatan broadcast permintaan maaf
dilakukan menggunakan SMS. Dengan beragam kalimat yang berbunga-bunga dan
terkadang animasi yang dipaksakan pada pesannya. Hahahaha. Sedikit begeser
jaman, permintaan maaf masih dengan cara broadcast
namun menggunakan pesan Blackberry Massanger (BBM). Ini terjadi sekitar masa
SMA dan perkuliahan saya awal. Pesan yang paling lazim adalah “jika kaki tidak
lagi sanggup melangkah...” dan “air tak selamanya jernih...” hahahaha. Dua genre permintaan maaf itu adalah yang
paling populer menurut saya waktu itu. Apakah pembaca sekalian pernah mendapat pesan
semacam itu ? saya rasa pernah.
Saya ingat sewaktu saya masih alay
(sekarangpun masih), saya mengirimkan permintaan maaf dengan cara yang lain
daripada biasanya. Saya mengirimkan permintaan maaf kepada teman-teman saya
dengan menuliskan kata-kata permintaan maaf saya ke dinding facebook mereka. Setelah saya
berpikir lagi (baru saja) tindakan saya sangatlah konyol. Buat apa coba, kan ga
ada faedahnya nulis permintaan maaf di dinding facebook orang. Saya menganggap
permintaan maaf lewat broadcast adalah
konyol, tapi permintaan maaf lewat dinding facebook saya rasa jauh lebih konyol
lagi. Ya tuhan ampuni hambamu yang alay ini (dulu).
Jadi, orang normal akan meminta maaf
menjelang lebaran. Tapi saya, NO !. Saya tidak akan meminta maaf kepada kalian
semua. Alasan pertama adalah karena saya bukan orang normal (hahahaha). Normal
dalam artian meng-amini kebiasaan mayoritas, sedangkan saya terkadang tidak
meng-amini pendapat mayoritas yang berarti saya tidak normal. Termasuk dalam perihal permintaan maaf sewaktu lebaran.
Alasan kedua adalah karena memang menjadi khitah dari manusia yang akan selalu
berbuat salah dan dosa. Ada pepatah yang berkata “tiada mantan yang tak
dikenang –eh, tiada gading yang tak retak”. Menurut saya pepatah itu
menggambarkan kodrat manusia yang akan selalu salah. Sehingga kesalahan sudah
selayaknaya dimaklumi, karena kesalahan yang mencirikan manusia. Karenanya,
kesalahan yang sudah sepatutnya dimaklumi membuat permintaan maaf tidak perlu
diucapkan. Karena tanpa mengucapkan permintaan maafpun, kesalahan manusia sudah
selayaknya dimaklumi dan dimaafkan.
Secara sederhana akan saya berikan
contoh. Saya sewaktu lebaran tidak pernah mengucapkan permintaan maaf kepada Yu
In atau Pak Bas (ayah dan ibu saya). Saya hanya akan bersalaman sehabis sholat
ied, tanpa mengucap apapun dan bahkan tanpa bertatap mata. Bukan berarti saya
tidak span atau bagaimana. Saya paham betul Yu In akan memaafkan saya tanpa
saya mengucap sepatah katapun, dan begitupun sebaliknya. Jadi sekali lagi saya
katakan saya tidak akan meminta maaf kepada kalian. Saya menyarankan begitupula
kalian tidak perlu meminta maaf kepada saya. Sebagai manusia, sudah pasti
tempatnya salah dan lupa, maka mari kita saling memaklumi kodrat kita yang
selalu salah. Dan mari kita mensyukuri kodrat ini yang menjadikan kita sebagai
manusia. Selamat lebaran kawan.[]

Leave a Comment